@ eri: sorry, blog jarang
sy buka, tentang
pembiayaan defisit melalui
utang luar negeri menurut
saya juga bukan pilihan yg
tepat mengingat kondisi
tatakelola proyek pinjaman
yg belum bersih & sarat
kebocoran, juga alokasi yg
tidak efisien..selain itu
target pencairan juga
meleset terus, tapi
komitmen fee & bunga harus
dibayar terus..rugi kan?
secara teori sih memang
pinjaman luar negeri lebih
menguntungkan
Tp, ya salah satu
masalahnya ada pada
penyerapan anggaran yang
memble. Percuma saja APBN
ambisius jika
penyerapannya jeblok.
Silpa besar di akhir tahun
ga ada gunanya (tp lumayan
juga silpa 2008 mau dipake
stimulus fiskal di 2009,
hehe)
hehe..harus diganti itu yg
di link. Met tahun baru
juga, ya, mba'. Btw, utk
poin ke-4 n 5 soal defisit
itu, langkah pmrintah
menurutku sudah betul dgn
tidak menyandarkan diri
pada emisi SUN (mengingat
yield-nya msh tinggi dan
gejolak pasar finansial).
jd, langkah pemerintah yg
saat ini sdh dpt standby
loan scra bilateral maupun
dr lembaga multilateral,
mnrutku, sdh tepat
(bunganya lbh rendah). Klo
masalah defisit, dlm
kondisi swasta yg kayak
gini, model anggaran
defisit masih bisa
ditoleransi. Belanja
pemerintahlah yg akan
menggenjot perekonomian.